Tampilkan postingan dengan label laut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laut. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Desember 2011

LAUT



Laut lepas adalah merupakan res nullius, dan kecuali apabila terdapat aturan-aturan dan batasan-batasan yang diterapkan untuk kepentingan negara-negara, laut lepas tidak merupakan wilayah negara manapun. Doktrin laut bebas (Freedom of the seas) berarti bahwa kegiatan-kegiatan di laut dapat dilakukan dengan bebas dengan mengindahkan penggunaan laut untuk keperluan lainnya.
Istilah laut lepas (high seas) pada mulanya berarti seluruh bagian laut yang tidak termasuk perairan pedalaman dan laut teritorial dari suatu negara
Pada konperensi Kodifikasi Den Haag 1930 atas prakarsa Liga Bangsa-Bangsa walaupun disetujui mempertimbangkan laut teritorial sebagai bagian dari wilayah negara pantai, dan perairan di luarnya adalah laut lepas, tetapi konperensi tersebut mengalami kegagalan dalam menentukan lebar laut teritorial.
Kemudian konsepsi laut bebas ini lebih jelas terlihat di dalam pasal 2 dari Konvensi Genewa 1958 tentang laut lepas, yang menyatakan bahwa laut lepas adalah terbuka untuk semua bangsa, tidak ada suatu negarapun secara sah dapat melakukan pemasukan bagian dari laut lepas ke daerah kedaulatannya. Laut lepas dimaksudkan untuk kepentingan perdamaian dan tidak suatu negarapun yang dapat melakukan klaim kedaulatannya atas bagian laut lepas.
Kebebasan di laut lepas dilaksanakan di bawah syarat-syarat yang ditentukan oleh pasal-pasal ini (dari konvensi) dan oleh aturan-aturan hukum internasional. Negara pantai maupun bukan negara pantai memiliki kebebasan yang terdiri dari : 
(1) Kebebasan berlayar
(2) Kebebasan menangkap ikan
(3) Kebebasan menempatkan kabel-kabel dan pipa bawah laut.
(4) Kebebasan untuk terbang di atas laut lepas.
Kebebasan-kebebasan ini dan hal-hal lainnya yang dikenal oleh asas-asas umum hukum internasional, akan dilaksanakan oleh semua negara dengan memperhatikan kepentingan negara-negara lain dalam melaksanakan kebebasan di laut.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Misool, pesona selatan Raja Ampat

Untuk kesekian kalinya saya mengunjungi Raja Ampat. Kali ini diawali dengan undangan Pemkab Raja Ampat untuk menikmati ‘ Festival Bahari Raja Ampat 2010 ‘ yang dipusatkan Wasai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat yang terletak di pulau paling besar, Waigeo. Ini memang lebih pada kegiatan seremonial yang dibuka Bupati. Tak ada yang salah sekalian menikmati acara acara hiburan, tari dan aneka ragam makanan dari suku suku yang tersebar di kepulauan Raja Ampat.
Ini memang bisa digambarkan sebagai mini Indonesia, karena keragaman suku, agama, dan bahasa. Bagian selatan kepulauan yang dipengaruhi Islam dan Utara yang Kristen. Bahkan salah satu atraksi dari masyarakat setempat, ditampilkan Reog Ponorogo ! Usut punya usut ternyata banyak pendatang asal Trenggalek Jawa timur yang merantau ke Sorong dan tinggal sebagai pekerja di Pulau Waigeo.
Sejak pemekaran Kepulauan Raja Ampat menjad kabupaten, Wasai dibangun dari sebuah desa kecil di hutan belantara di Pulau Waigeo. Mau tidak mau, hutan lindung di babat untuk membelah pulau. Ketika saya disana, jalanan lebar hot mix sedang dibangun untuk menghubungkan pelabuhan baru. Demikian pula gedung gedung pemerintahan, dan hotel hotel bermunculan.
Satu yang membuat saya risau. Semoga aspek modernitas ini tidak menggerus alam dan ekosistem bahari. Bukankah ini yang membuat Raja Ampat menjadi icon bahari di Indonesia .

Papua loves NKRI
Dari Wasai kami melanjutkan perjalanan yang sesungguhnya menuju Misool, sebuah pulau besar dengan beberapa pulau pulau kecil yang berserakan di sekelilingnya. Kepulauan Raja Ampat terletak di barat laut kepala burung Pulau Papua, dengan kurang lebih 1500 pulau kecil dan atoll serta 4 pulau besar yang utama, yakni Misol, Salawati, Bantata dan Waigeo. Luas area ini kurang lebih 4 juta hektar persegi darat dan lautan - termasuk sebagian teluk Cendrawasih - membuatnya sebagai taman laut terbesar di Indonesia.
Kehidupan hayati dan biota laut Raja Ampat paling kaya dan beranekaragam dari seluruh area taman laut di wilayah segitiga koral dunia, Philipina – Indonesia – Papua Nuigini. Segitiga coral ini merupakan jantung kekayaan terumbu karang dunia yang dilindungi dan ditetapkan berdasarkan konservasi perlindungan alam Internasional.
jetty
Kami tak mencapai Pulau Misol, karena perjalanan yang di tempuh dengan mesin boat 2 kali 450 PK berakhir di sebuah pulau kecil bernama Batbitim. Disini “ Eco Resort “ membangun surganya bagi pencinta selam. Sebuah resor yang dibangun dan dikelola dengan memegang prinsip prinsip konservasi alam yang ketat.
Pulau kecil ini sangat indah, dengan bukit dan laguna pasir putihnya membentang di depan cotagges cottages yang seakan membius dengan pesona alamnya. Sebuah jembatan kayu menghubungkan antara dermaga, dengan dive centre dan sisi cottages sebelah depan dengan restaurant tepat di tengah pulau. Dari sana ada jalan mengarah atas bukit untuk menuju sisi cotagges di balik pulau.
puncak bukit ecoResor yang dikelola oleh pasangan dari Inggris ini memang menakjubkan. Disain struktur bangunan menggunakan bahan ( termasuk kayu ) yang ramah lingkungan dan menekan sedikit mungkin kerusakan alam. Butuh waktu 2 tahun untuk membangun, karena mereka konsisten memakai kayu kayu yang bukan dari hasil tebangan. Mereka membeli kayu dari pohon pohon yang rubuh atau mengumpulkan dari yang hanyut di laut lepas.
Pemakaian sabun yang mengandung antiseptik di haramkan selama berada di Misool Eco Resort. Ini karena limbah buangannya bisa membunuh kehidupan terumbu karang di sekitarnya. Mereka juga tidak menyediakan ikan ikan karang seperti kerapu kepada tamu tamunya karena tergolong ikan ikan langka.
Salah satu bentuk protes lainnya adalah tidak menghidangkan udang karena mengganggap pembibitan budidaya udang di Indonesia dilakukan dengan membabat hutan bakau.
Selain itu Misool Eco Resort melakukan kesepakatan dengan penduduk adat di sekitarnya untuk menjaga ekosistem terpadu yang disebut No Take Zone. Mereka menyewa wilayah seluas 425 km persegi di sekitar pulau Batbitim untuk melarang eksploatasi pengambilan apapun dari laut, termasuk memancing ikan, berburu kerang, telur penyu, sirip ikan hiu dan lain lain.
Patroli yang disebut Ranger Patrol secara rutin berputar menjaga dengan kapal boat di wilayah yang luas itu.
Barangkali yang membuat resor ini berbeda adalah, bagaimana melibatkan penduduk adat sekitarnya untuk mendapatkan keuntungan dari pengelolaan resort. Sebagian besar pegawai berasal dari kampung Yellu, pulau terdekat. Menaikan taraf hidup dan pemasukan mereka tanpa harus merusak alam.
jack1Ada sekitar 60 dive site di sekitar Misool Eco Resort yang umumnya bisa dicapai antara 10 menit sampai 1 jam dari dermaga. Termasuk Fiabacet, Boo, Magic Mountain, Yilliet, and Gorgonian Passage yang luar biasa indahnya. Ini diluar beberapa tempat yang masih dieksplorasi lagi.
Bahkan di bawah dermaga resort, begitu banyak ikan ikan, batfish, black / white tips shark yang masih kecil sampai sweetlips dan sniper. Yang paling utama kita bisa melihat atraksi school of jack – seperti di tulamben, Bali – yang selalu berada di sana. Berputar meliuk liuk mengucapkan selamat datang kepada para tamu. Tak bosan bosannya saya melakukan penyelaman di sini, karena penyelaman di dermaga bebas , di luar paket menyelam keluar pulau.
jack2Memang karakteristik penyelaman di seputar Misool agak berbeda dengan daerah utara seperti di Kri misalnya. Disini – walau ada – tetapi tak mudah menemukan mahluk kecil untuk macro photography. Umumnya memang obyek obyek wide shoot photography. Terumbu karang yang terhampar bagai permadani dan hutan sea fans di sana sini. Tentu saja dengan jumlah ikan ikan beraneka ragam yang begitu banyak.
Ini memang konskuensi dari kehidupan terumbu karang yang relatif sehat dan subur, seperti adagium No Corals life No fish. Ya, terumbu karang adalah rumah bagi hayati bawah laut. Sumber plankton bagi makanan ikan. Jika mereka dihancurkan, sudah semestinya tak ada ikan yang tinggal di sana.
lagoon senjaTak terasa hampir seminggu saya berada di Raja Ampat. Tak ada pesona bawah laut seindah di sini. No questions. Tak mungkin kita bisa menjelajahi seluruh wilayah dalam satu kali kunjungan. Wilayah ini terlalu luas dan masih menyimpan titik titik penyelaman yang belum di eksplorasi.
Menjelang malam terakhir, kami berenang renang di laguna yang jernih airnya dengan ditemani Batfish yag dengan jinak berputar putar di sekeliling kami. Mungkin ini semacam salam perpisahan. Mungkin ia terus berharap bahwa tidak ada yang akan berubah di Misool sampai akhir jaman. Kehidupan ini terlalu berharga untuk dihancurkan dengan alasan modernisasi.
Sambil ditemani seorang teman, saya masih mengepak barang barang di dive centre dengan angin laut yang sepoi sepoi membelai mesra wajah saya. Semua teman teman sudah lelap di kamarnya masing masing karena kami sudah harus berangkat subuh subuh untuk mengejar pesawat Merpati yang membawa pulang ke peradaban di Jakarta.
Rupanya sang teman tak rela meninggalkan tempat ini. Ia membuat janji dengan kekasih wanitanya untuk menikmati malam terakhir di depan laguna. Lama menunggu sampai larut malam, si kekasih tak muncul sehingga ia kembali ke kamarnya di sisi pulau. Ketika saya hendak bergegas, si wanita baru muncul. Rupanya ia tertidur, dan wajahnya cemas mencari cari kekasihnya yang telah pergi karena lama menunggu. Ah, Misool memang begitu mempesona, sehingga mereka yang dimabuk cintapun enggan melupakan kenangan ini.
Tentu saja, saya akan kembali ke sini. Someday. Somehow.
ocha1batfish

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger