Kamis, 15 Desember 2011

AIR TAWAR DI LAUT ASIN

Ada Air Tawar di Laut Asin

Bila kita naik mobil dari bandara King Abdul Aziz menuju pusat kota Jeddah kira-kira di setengah perjalanan –di sebelah kanan tepi Laut Merah- akan tampak pipa-pipa menjulang tinggi mengeluarkan asap. Itu merupakan pabrik instalasi penyulingan air laut untuk memasok kebutuhan air tawar sejumlah 38 ribu m³ per hari bagi penduduk kota Jeddah.
Dalam Arab News, 11 juli 2004, ada ulasan tentang instalasi penyulingan air laut tadi, para insinyur khawatir kalau terjadi sabotase atau serangan teroris terhadap instalasi ini berarti bencana kehausan bagi Jeddah. Seorang wanita ahli teknik bernama Dr. Amal al-Iraqi di Saudi Arabia, yang menjabat direktur perusahaan Nafia Water, mengusulkan alternatif yang sesuai dengan isyarat dalam Al Quran Surat Al Furqan (25) ayat 53. Yakni mengambil air dari sumber mata air tawar di dasar laut.
Dalam penelitiannya bersama para ahli Prancis dari Nymphase Water, di sepanjang dasar Laut Merah yang asin terdapat beribu-ribu titik sumber mata air tawar. Sumber-sumber air tawar ini mengeluarkan air terus-menerus dan tidak bercampur dengan air laut di sekitarnya yang asin, seolah-olah ada dinding selubung yang membasinya. Tepat seperti yang disebut dalam Al Quran. Subhanallah. Nabi Muhammad saw. Tidak pernah menyelam di laut Merah. Bagaimana beliau bias tahu? Hal tak terbantahkan ini merupakan bukti mujizat Al Quran. Masihkah manusia mengingkari?
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang masih kamu dustakan? (Q.S. Ar-Rahman 55:13)
Pada zaman purbakala, mata air tawar ini berada daratan. Karena pergerakan geologis, daratan tadi terbenam, atau sebaliknya permukaan air laut yang naik, kini daratan tadi di dasar laut. Tetapi tenggelamnya tidak menghentikan pancaran air itu. Mereka tetap mengalirkan air tawar dengan tingkat keasinan (salinitas) kurang dari 1,4 gram per liter dan temperatur 17°C.  Debitnya di musim panas  80 liter per detik dan di musim lain 120-150 liter per detik.
Dengan teknologi khusus, air tadi tinggal dialirkan melalui pipa-pipa untuk memenuhi kebutuhan kota-kota di sepanjang Laut Merah, atau bisa juga dikemas dalam botol. Teknologinya sederhana, tidak merusak ekosistem, dan biayanya hanya seperempat biaya instalasi penyulingan air laut model sekarang. Juga lebih aman karena sulit dijadikan sasaran bom. Pierre Becker dan Thierry Carlin, penemu sistem teknlogi tadi, pertama kali melakukan uji coba di mata air di dasar laut di perbatasan Prancis-Italia. Menurut mereka, sumber-sumber mata air tawar terdapat di seluruh dasar laut di dunia. Allahu Akbar.
Menurut Edgren (1993), 50-70% penduduk dunia, atau 5,3 miliar manusia bertempat tinggal di kawasan pesisir. Sedangkan menurut Cicin Sain dan Knecht (1998), dua pertiga kota besar di dunia berada di pesisir. Dengan pertambahan penduduk dan industri yang pesat, sumber air tawar daratan akan segera terkuras habis. Tetapi, Al Quran mengisyaratkan bahwa manusia bisa menggali sumber mata air dasar laut untuk mengatasinya. Mahabenar Allah.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger