Kamis, 15 Desember 2011

MUTIARA DI LAUT TENGAH



antalyaAntalya, nama yang indah bagi sebuah kota pantai yang indah di bagian selatan Turki. Kota dengan penduduk sekitar 800,000 ini menghadap ke Laut Tengah dan membelakangi pegunungan yang tinggi sehingga terlindung dari arus dingin dari utara. Karena itu selama sekitar 300 hari dalam setahun Antalya berada di bawah sinar mentari.
Singkat kata, kota ini memiliki cuaca tipikal kawasan Laut Tengah yang cocok bagi pengunjung dari Asia: musim panas yang kering dan membara (29°C-45°C), dan musim dingin yang sedang dan basah. Suhu air laut tidak pernah di bawah 15°C.
Bila Anda mengunjungi Antalya pada Maret atau April, Anda dapat bermain ski di pegunungan salju pada pagi hari dan pada sore hari berenang di dalam air yang hangat dari Laut Tengah.
"Antalya kerap kali disebut Riviera-nya Turki," kata Engin Palabiyik, seorang pandu wisata.
Kami hanya berada sekitar 36 jam di Antalya, waktu yang terlalu singkat untuk menguatkan atau membantah pernyataannya. Namun kesan umum cenderung berpihak pada yang pertama.
Beberapa hal mendukung penegasan Engin: Antalya memiliki pantai putih-bersih yang menghadap laut nan biru dan bulevar di tengah kota yang lebar dipayungi pohon-pohon palem.
Trotoar membingkai pusat pertokoan yang menawarkan barang-barang mewah. Berjalan kaki di seputar kawasan itu bukan saja menyegarkan raga tetapi juga jiwa kita.
Yang absen di Antalya namun berlimpahan di Riviera adalah kapal pesiar dan limosin mewah dan aura jet set. Namun tampaknya ini soal waktu saja, karena Antalya kian berkibar sebagai salah satu mutiara di Laut Tengah.
Antalya menawarkan banyak hal yang kota-kota resor lain hanya dapat mendambakannya. Salah satunya adalah Archeological Museum, yang menyajikan kekayaan sejarah kawasan tersebut, dan Ataturk Museum, di mana barang-barang milik pendiri Turki modern yang sangat dihormati warganya, diperagakan. Dan seperti semua museum di Turki, dua-duanya dikelola dan ditata dengan baik; pengunjung betah untuk berlama-lama di sana dan meninggalkannya dengan pengalaman yang kaya.
antalya"Antalya tidak menjelma dalam satu malam. Perkembangan dan pembangunan di sini mulai sejak 1970an untuk mentransformasi kota ini menjadi suatu resor internasional," demikian Engin.
Menjadikan Antalya sebagai suatu tujuan wisata utama bukan berarti merobohkan bangunan lama atau merombak kantong-kantong perkotaan yang kumuh. Sebaliknya, apa yang dilakukan adalah merenovasi apa yang sudah ada seraya menyediakan fasilitas yang sebelumnya belum pernah ada.
Contoh paling mencolok adalah Kaleiçi, pusat kota lama yang jalan-jalannya masih menggunakan batu dan mengandung bangunan bersejarah Turki dan Yunani dan pelbagai hotel kecil, toko suvenir dan bar.
"Hasil dari restorasi bagian kota ini menghasilkan Golden Apple Prize, semacam penghargaan Oscar dalam bidang parawisata," kata Engin.
Kaleici hanya salah satu saja dari banyak atraksi wisata di Antalya yang harus masuk dalam daftar tempat untuk dikunjungi. Selain di dua museum yang disebut tadi, luangkan waktu Anda paling tidak di Fluted Minaret, menara yang didirikan pada abad ke-13—ia melekat pada sebuah masjid tua yang masih berfungsi—dan kini merupakan simbol dari Antalya, dan pelabuhan lama dan baru. Tempat-tempat berusia ini bukan saja memiliki nilai intrinsik wisata yang tinggi, tetapi juga merupakan contoh baik bagaimana kita berusaha memiliki masa depan yang baik seraya memelihara masa lalunya.
Kemajuan dan daya tarik Antalya yang kian meningkat mendorong kehadiran beberapa hotel baru dan berbintang, antara lain Sheraton di atas pantai-pantai Konyaalti dan Lara, serta International Comfort Hotel yang terletak tidak jauh dari bandara.
Pada 2007, untuk pertama kalinya jumlah penumpang dan penerbangan internasional bandara Antalya melebihi hal yang sama dari Ataturk Airport di Istanbul dan bandara Sabiha Gökçen International Airport (dibagian Asia dari Istanbul). Kenyataan ini memungkinkan Antalya meraih julukan "ibu kota dunia pariwisata Turki", demikian Engin.
antalya
Setelah melihat sendiri Antalya, tidak lah mengherankan bilamana dalam waktu dekat resor tersebut berkembang menjadi salah satu ibu kota pariwisata kawasan Eropa.
Catatan: Bulan lalu President & CEO Garuda Indonesia Emirsjah Satar menandatangani sebuah memorandum of understanding (MoU) dengan counterpart-nya dari Turkish Airways, Candan Karliteken, dalam mana kedua belah pihak sepakat untuk melakukan code sharing, promosi dan pemasaran bersama untuk meningkatkan lalu-lintas penumpang dan barang antara kedua negara. 

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger