Kamis, 15 Desember 2011

Topan di Laut Arab Tambah Ganas Disebabkan Polusi Asia Selatan

POLUSI yang dibawa udara dari Asia Selatan kini membuat kian ganas badai-badai monster di Laut Arab yang menurut para ilmuwan telah merenggut ribuan nyawa dan menimbulkan kerugian miliaran dolar.
Dalam sebuah makalah yang dipublikasikan di jurnal Inggris Nature, para periset menunjuk langsung suatu kabut yang dikenal sebagai Asian brown cloud (awan coklat Asia), yang menggelantung di atas beberapa wilayah Samudera Hindia utara, India dan Pakistan.
Memiliki ketebalan beberapa kilometer, awan itu terdiri atas partikel-partikel jelaga karbon kecoklatan dan sulfat yang dimuntahkan oleh pabrik-pabrik, asap buangan diesel dan biomassa yang terbakar tak sempurna. Riset terdahulu menyebutkan awan tersebut mengacau pola-pola musim penghujan dan menyebabkan hilangnya gletser di wilayah pegunungan Himalaya.
Para ilmuwan lingkungan dipimpin Amato Evan dari University of Virginia meneliti pola-pola badai di Laut Arab dari 1979 hingga 2010.
Mereka menemukan, wilayah itu secara historis hanya memiliki badai rata-rata satu tiga kali setahun dan jenisnya pun lemah -- sekalipun jika laut tersebut jelas cukup panas untuk memicu badai-badai sangat kuat.

Fenomena
Alasan kelemahan dan frekuensinya menurut para ahli tadi terletak pada suatu fenomena disebut vertical wind shear atau gunting angin vertikal yang terjadi pada Juli dan Agustus saat bulan-bulan panas musim monsoon.
Gunting angin vertikal itu terjadi bila angin-angin kuat bertiup di atmosfer lapisan atas dan bawah pada arah berlawanan. Pada level bawah, angin itu bertiup dari arah baratlaut, dan lapisan atas atmosfer berhembus dari timur.
Gunting itu memutus bagian atas calon badai, sehingga menyegahnya untuk membuat angin-angin berputar yang jadi tanda kekuatannya.
Akibatnya, beberapa badai yang terjadi di Laut Arab umumnya muncul sebelum atau sesudah musim monsoon -- biasanya satu badai dalam Mei/Juni dan dua badai lain dalam Agustus hingga Desember -- ketika gunting angin tersebut jauh lebih sedikit.
namun dalam sekira 12 tahun terakhir, pola itu telah mengalami perubahan, dengan kemunculan badai-badai dalam beberapa pekan tak lama sebelum musim monsoon.
Badai-badai itu termasuk satu topan yang menewaskan hampir 3.000 orang di Gujarat, India, dalam Juni 1998.
Pertama
Dalam Juni 2007, topan Gonu, sebuah badai kategori lima, menewaskan 49 orang di Oman dan Iran, menyebabkan kerugian lebih empat miliar dolar. Topan itu merupakan badai pertama yang pernah didokumentasikan memasuki Teluk Oman.
Dan dalam Juni 2010 lalu, 26 orang tewas di Pakistan dan Oman akibat serangan topan kategori empat, Phet, yang menimbulkan kerugian hampir dua miliar dolar.
Tim periset tadi menyebutkan partikel-partikel "awan kecoklatan" itu telah berkembang jadi enam kali lipat sejak 1930-an dan polusi tersebut kini merupakan suatu fenomena iklim yang juga menimbulkan kerusakan.
Warnanya yang gelap menyerap sinar matahari sehingga membuatnya jadi sumber panas dan menyebabkan pendinginan di bawah samudera -- yang pada gilirannya mempengaruhi sirkulasi angin dan pembawa panas dari laut itu ke atmosfer.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger